Siswa Sekolah Rakyat menunjukkan bahwa membaca tidak berhenti pada memahami teks. Melalui kegiatan alih wahana, mereka mengolah komik sastra klasik menjadi film animasi dengan menggerakkan ilustrasi, menyusun adegan, serta menambahkan narasi dan suara.
Proses kreatif tersebut ditampilkan dalam video “Evaluasi Alih Wahana Cerita Klasik oleh Siswa Sekolah Rakyat”. Video ini merekam perjalanan sebuah karya sastra dari bentuk awalnya hingga hadir kembali dalam medium yang lebih dekat dengan generasi digital.
Karya yang digunakan berasal dari sastra klasik yang hak ciptanya berada pada Balai Pustaka. Dengan izin pemegang hak cipta, karya tersebut sebelumnya disadur oleh Pujasintara Perpustakaan Nasional menjadi komik anak. Komik itulah yang kemudian diolah kembali oleh siswa Sekolah Rakyat menjadi film animasi atau film kartun sederhana.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari Festival Literasi Sekolah Rakyat yang diselenggarakan bersama oleh P3SMPT Perpustakaan Nasional dan Pusdiklatbangprof Kementerian Sosial. Karya-karya siswa telah melalui proses peninjauan dan penilaian oleh dewan juri yang melibatkan unsur Perpustakaan Nasional dan Kementerian Sosial.
Alih wahana ini tidak sekadar memindahkan cerita dari PDF ke video. Para siswa perlu memahami isi cerita, menentukan bagian yang akan divisualisasikan, mengatur pergerakan tokoh, menyusun alur, dan menambahkan suara agar pesan cerita dapat diterima penonton.
Melalui proses tersebut, siswa belajar menggabungkan kemampuan membaca, literasi visual, kreativitas, kerja sama, dan pemanfaatan teknologi. Sastra klasik pun tidak hanya menjadi bahan bacaan, tetapi menjadi ruang bagi siswa untuk menafsirkan dan menceritakannya kembali dengan bahasa media mereka sendiri.
Pada Senin, 27 Juli 2026, P3SMPT Perpustakaan Nasional telah menyampaikan hasil pelaksanaan Festival Literasi Sekolah Rakyat kepada Sekretaris Jenderal Kementerian Sosial. Pelaporan tersebut menjadi bagian dari evaluasi sekaligus upaya memperkuat keberlanjutan program literasi bagi siswa Sekolah Rakyat.
Kegiatan ini memperlihatkan bahwa karya klasik dapat terus hidup melalui proses pembelajaran yang kreatif. Dari sastra menjadi komik, kemudian berkembang menjadi film animasi, setiap tahap membuka kesempatan baru bagi generasi muda untuk mengenal, memahami, dan merawat warisan pengetahuan bangsa.