Deskripsi
Buku ini membahas demokrasi dari sisi yang sering luput dari perhatian: kualitas pengetahuan dan kemampuan warga dalam memahami informasi sebelum mengambil sikap.
Demokrasi tidak cukup hanya ditopang oleh pemilu, kebebasan berbicara, keterbukaan informasi, dan partisipasi publik. Semua itu penting, tetapi belum memadai jika warga tidak memiliki kemampuan untuk membedakan fakta dan opini, memeriksa sumber, membaca konteks, menimbang argumen, serta memperbaiki pandangan ketika berhadapan dengan pengetahuan baru.
Di tengah arus informasi digital yang sangat cepat, masyarakat tidak lagi kekurangan informasi. Tantangannya justru terletak pada kemampuan memilih, memeriksa, menafsirkan, dan menggunakan informasi secara bertanggung jawab. Disinformasi, manipulasi narasi, bias algoritmik, dan reaksi emosional dapat membentuk persepsi publik sebelum proses verifikasi bekerja secara memadai.
Melalui buku ini, pembaca diajak memahami konsep demokrasi pengetahuan, yaitu keadaan ketika akses informasi disertai kemampuan berpikir kritis dan pertimbangan publik yang matang. Buku ini juga membahas ketahanan kognitif bangsa, yakni kemampuan kolektif masyarakat untuk menjaga kejernihan berpikir di tengah banjir informasi, tekanan opini, percepatan teknologi, dan kontestasi global.
Pembahasannya mencakup kesetaraan akses pengetahuan, pendidikan, literasi, perpustakaan, tata kelola digital, distribusi dan validasi pengetahuan, krisis epistemik, kecerdasan buatan, perang kognitif, serta pergeseran kontestasi dari geopolitik menuju geokognitif. Buku ini juga memperlihatkan bagaimana pendidikan, perpustakaan, media, data publik, dan kebijakan negara perlu dibangun sebagai satu ekosistem pengetahuan yang saling terhubung.
Berbagai pengalaman praktis di bidang literasi, perpustakaan, pendidikan, Sekolah Rakyat, KKN Literasi, dan transformasi digital digunakan untuk menunjukkan bahwa ketahanan bangsa tidak hanya dibangun melalui kekuatan fisik, ekonomi, dan teknologi. Ketahanan juga harus dijaga di ruang pikir.
Buku ini relevan bagi pembuat kebijakan, aparatur pemerintah, akademisi, pendidik, pustakawan, mahasiswa, pegiat literasi, praktisi media, serta siapa pun yang ingin memahami hubungan antara pengetahuan, demokrasi, teknologi digital, dan ketahanan bangsa.



Ulasan
Belum ada ulasan.